Penyakit Busuk Pangkal Batang dan Busuk Pangkal Atas pada Tanaman Kelapa Sawit

Oleh: Baskara Liga (Asosiasi Planter Indonesia)

Penyebaran penyakit busuk pangkal batang (BPB) atau disebut basal stem root (BSR) dan busuk pangkal atas (BPA) atau disebut upper stem root (USR) pada tanaman kelapa sawit akibat infeksi jamur Ganoderma sp kian merajarela saat ini, baik pada tanaman yang dimiliki oleh perusahaan perkebunan, para pekebun maupun milik petani kelapa sawit.

Di Sumatera Utara, penyebaran penyakit ini menyebabkan jumlah tegakan tanaman kelapa sawit usia di bawah 15 tahun hanya berkisar 80 – 90 pohon per hektare dari standar antara 136 – 142 pohon per hectare. Kondisi demikian mengakibatkan dilakukan penamanan kembali atau disebut replanting secara dini akibat tegakan pohon per hektare yang rendah.

penyakitDapat dibayangkan, usia tanaman kelapa sawit kurang dari 15 belas tahun dalam kategori usia produktif, namun kenyataannya terpaksa harus dilakukan penanaman ulang atau replanting.

Dewasa ini penyebaran penyakit tanaman kelapa sawit akibat infeksi Ganoderma sp atau penyakit Khomes (sebutan oleh petani kelapa sawit di Sumatera Utara) sudah meluas hampir di seluruh kabupaten di provinsi tersebut, juga di Kabupaten Aceh Tamiang (Aceh) dan Riau. Secara sporadik dijumpai infeksi penyakit ini pada tanaman kelapa sawit di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah.

Di Sumatera Utara, akibat infeksi penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma sp menurunkan produksi hingga mencapai 50% dan menyebakan penanaman ulang atau replanting secara dini pada tanaman usia produktif.

Dalam pelaksanan observasi maupun penelitian yang dilakukan oleh tim penelitian Asosiasi Planter Indonesia di beberapa daerah, banyak dijumpai pangkal batang atas tanaman kelapa sawit yang patah dan tumbuhnya badan buah beserta basidiospora jamur Ganoderma sp, begitu juga dijumpai pada pelepah paling bawah tanaman kelapa kelapa sawit menghasilkan usia muda yang ditunas (pruning). Dapat diduga bahwa basidiospora atau yang sering disebut spora jamur Ganoderma sp memegang peranan utama terjadinya infeksi BPA dan pada pelepah paling bawah tanaman kelapa sawit menghasilkan usia muda, penyebaran diperkirakan melalui perantara angin, air hujan, manusia (pekerja), kendaraan, burung, serangga, ternak sapi dan sebagainya.

Sebelumnya Thompson (1931) juga berpendapat bahwa spora Ganoderma sp bertanggungjawab dalam memulai penyakit BSR pada kelapa sawit generasi pertama di areal bekas hutan perawan. Basidiospora, yang terbawa oleh angin atau serangga, pertama-tama memerlukan substrat yang cocok untuk membentuk koloninya, misalnya batang kelapa mati atau tunggul kelapa sawit, kemudian mereka berkecambah secara cepat dan menyebar ke seluruh tunggul. Diperkirakan bahwa spora juga dapat dibawa oleh kumbang jenis Orytes (Turner, 1981). Ulat larva dari jenis  serangga Sufetula spp juga berperan dalam menyebarkan spora Ganoderma (et al Genty, 1976).

Beberapa tahun lalu penyebaran penyakit BPB lebih diyakini oleh beberapa pihak berkompeten terjadi karena kontak akar tanam terinfeksi dengan tanaman di sekitarnya. Belakangan ini, infeksi jamur Ganoderma sp pada tanaman kelapa sawit cenderung dijumpai pada pelepah yang ditunas (pruning) dan pada pangkal atas (BPA) hingga tanam terinfeksi mencapai 60 – 70%, sehingga kenyataan ini menepis bahwa jamur Ganoderma sp menular ke tanaman lain hanya melalui kontak jaringan atau kontak akar.

Tim pemerhati dan peneliti Asosiasi Planter Indonesia yang berkedudukan di Jalan Bangka Nomor 55 Medan bekerjasama sama dengan CV Agro Persada Indolestari dan UD Agro Tani Mandiri (pelayanan konsultasi gratis bagi petani) berkedudukan di Jalan Kartini No. 155 Kisaran, Kabupaten Asahan, sejak tahun 2011 selain melakukan observasi dan penelitian sebab-sebab infeksi juga melakukan penelitian tentang teknis proteksi, pengendalian dan penekanan dalam upaya menangkal dan pengendalian penyakit tanaman kelapa sawit akibat infeksi jamur Ganoderma sp, hingga saat ini.

Sebenarnya jamur Ganoderma sp banyak dijumpai di setiap kawasan hutan di Indonesia, dengan gundulnya hutan dengan mudah jamur Ganoderma sp berpindah inang ke tanaman kelapa sawit, sehingga pemanfaatan kawasan hutan yang terdapat sumber jamur Ganoderma sp dijadikan perkebunan kelapa sawit tidak akan dapat menghindari penyakit akibat infeksi jamur Ganoderma sp. Mengingat bahwa pengendalian jamur Ganoderma sp yang telah menginfeksi tanaman kelapa sawit tidaklah muda dan memerlukan biaya pengendalian maupun penekanan terhadap penyakit yang satu ini cukup tinggi, merepotkan dan berakibat pada penurunan produksi maupun tegakan pokok per hektar yang sangat tinggi bila menyebar luas.

Demikian juga pengendalian yang dilakukan tidak akan optimum apabila penyakit tersebut sudah tersebar luas dan pengendalian tidak dilakukan secara terpadu.

Langkah bijak untuk menghindari atau mencegah penyebaran penyakit tanaman kelapa sawit yang diakibatkan oleh infeksi jamur Ganoderma sp adalah dengan cara perlakuan proteksi dini. Kegiatan proteksi dini yang lebih efektif harus dilakukan mulai dari penyiapan tanah untuk pembibitan kelapa sawit pre nursery, main nursery, penyiapan areal penanamam atau areal rencana replanting, lubang tanam, tanaman belum menghasilkan (TBM) hingga tanaman menghasilkan (TM). Proteksi dini yang dimaksud dalam upaya menghindari terjadinya atau mencegah penyebaran jaringan, sel maupun basidiospora jamur Ganoderma sp melalui peranan beragam jenis mikroba probiotik (mikroba dari golongan jamur dan bakteri yang sifatnya menguntungkan dan sebagai agen hayati pengendalian jamur Ganoderma sp).

I. Proteksi Dini.
Adapun teknis dan biaya proteksi dini yang akan dilakukan sebagai berikut :
1. Pembibitan Pre Nursery (PN) dan Main Nursery (MN).
Proteksi dini yang terbaik adalah perlakuan aplikasi sel mikroba probiotik (merek Bioenzim – Powder) dicampur pada media tanah untuk pengisian babybag dan polybag, berikutnya permukaan babybag dan polybag diaplikasi serasahan secukupnya. Adapun kebutuhan biaya untuk rencana aplikasi pada pembibitan PN dan MN,
sebagai berikut :
a. Dosis campuran mikroba probiotik (merek Bioenzim) pada tanah untuk pengisian ke babybag sebanyak 10 gram per babybag; dengan biaya bahan sekitar Rp 900/bag.
b. Dosis campuran mikroba probiotik (merek Bio Super Katalisator BA-5 Super “E” – cair ) pada tanah untuk pengisian ke polybag sebanyak 30 ml per polybag; biaya bahan sekitar Rp 600/polybag.
c. Dosis aplikasi pada usia bibit MN mencapai 6 – 7 bulan atau setelah aplikasi serasahan, selanjutnya dilakukan penyebaran sel mikroba probiotik (merek Bio Fertrich – powder) pada permukaan tanah dan permukaan polybag pembibitan MN sebanyak 800 kg per hektare atau sebanyak 50 gram per polybag yang diaplikasi pada permukaan polybag dan permukaan tanah sekitar polybag, dengan biaya sekitar Rp 15.000.000/hektar (diperkirakan untuk bibit sebanyak 15.000 bibit per hektar) atau sebsar Rp 1.000/bibit.

Total biaya aplikasi mikroba probiotik pada pembibitan kelapa sawit dari PN hingga MN mencapai biaya sekitar Rp 2.500/bibit kelapa sawit.

2. Penyiapan Lahan Tanaman
Persiapan lahan rencana tanam baru atau replanting sebaiknya dilakukan penyemprotan atau penyebaran sel mikroba probiotik (merek Bio Super Katalisator BA-5 Super “E” atau Bio Fertrich) secara blanket pada lahan untuk rencana tanam baru atau replanting. Batang kelapa sawit tua yang terdapat pada areal rencana replanting terlebih dahulu dilakukan chipping, setelah itu dilakukan penyebaran sel mikroba probioitk guna menekan perkembangan sel mikroba pathogen (Ganoderma sp) yang terdapat di areal tersebut. Adapun dosis penyemprotan sebanyak 5 liter sel mikroba probiotik per hektare atau dengan biaya sekitar Rp 75.000 – Rp 100.000/hektar blanket (biaya di luar tenaga kerja) atau aplikasi dapat dilakukan bersamaan dengan penyemprotan gulma maupun lalang di gawangan sehingga dapat menghemat biaya tenaga kerja.

3. Penanaman (Transplanting)
Oleh karena pemindahan bibit kelapa sawit dari areal pembibitan ke areal penanaman, akar bibit kelapa sawit pasti terluka atau terputus, sehingga sangat rentan terinfeksi sel, jaringan atau basidiosporaGanoderma sp. Untuk itu, disarankan lubang tanam harus diaplikasi sel mikroba probiotik (merek Bio Fertrich) sebanyak 100 gram perlubang dengan biaya sekitar Rp 1.750/lubang tanam.

4. Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
Proteksi dini untuk upaya mencegah penyebaran basidiospora jamur Ganoderma sp pada tanaman belum menghasilkan (TBM). Proteksi dini pada areal tanaman belum menghasilkan dilakukan dengan cara menyebarkan sel mikroba probiotik ke gawangan atau piringan tanaman kelapa sawit, dilakukan sedikitnya 2 rotasi per tahun, aplikasi penyebaran sel mikroba probiotik dapat mengikuti penyemprotan gawangan dan piringan, sehingga dapat menghemat biaya tenaga kerja.

Dosis aplikasi sel mikroba probiotik dengan produk Bio Super Katalisator BA-5 Super “E” untuk rotasi pertama pada semester satu sebanyak 5 liter per hektare (blanket), dengan biaya sekitar Rp 100.000/hektare per rotasi. Untuk rotasi kedua pada semester kedua menggunakan produk Bioenzim dengan dosis 5 liter per hektar e (blanket), dengan biaya sekitar Rp 125.000/hektare per rotasi, atau sekitar Rp 225.000/hektar per tahun.

5. Tanaman Menghasilkan (TM).
Perlakuan pada tanaman menghasilkan hampir sama seperti pada tanaman belum menghasilkan, baik dosis penyemprotan maupun biaya yang digunakan. Akan tetapi pada TM penunasan pelepah (pruning) senantiasa dilakukan sehingga penunasan tersebut menyebabkan terjadinya jaringan luka. Jaringan luka pada pangkal pelepah lebih rentan terinfeksi oleh sel atau basidiospora jamur Ganoderma sp. Untuk itu perlakuan penyemprotan maupun penyebaran sel mikroba probiotik disarankan juga pada pangkal pelepah luka di sekeliling tanaman kelapa sawit.

II. Pengendalian dan penekanan.
Pada tahapan upaya pengendalian dan penekanan untuk mencegah lebih meluasnya penyebaran penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) dan Busuk Pangkal Atas (BPA), perlakuan utama yang harus dilakukan adalah mengutip atau mengumpulkan seluruh badan buah (fruiting body) jamur Ganoderma sp yang tumbuh pada batang tanaman kelapa sawit ataupun tunggul kayu di sekitar tanaman kelapa sawit dengan sarung tangan dan dimasukan ke dalam karung atau kantongan plastik (bebas dari kebocoran untuk menghindari spora tersebar), berikutnya badan buah yang sudah dikumpul lalu dibakar bersamaan kantongannya. Langkah selanjutnya adalah dilakukan kegiatan pengendalian dan penekanan melalui penyebaran sel mikroba antagonis dalam satu paket dalam mikroba probiotik.

a. Pengendalian
Pengendalian penyakit tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh infeksi jamur Ganoderma sp lebih efektif pada tanaman terinfeksi yang masih stadium 2. Jika infeksi sudah di atas stadium 2 hanya efektif dilakukan untuk perpanjangan usia atau upaya menekan penyebaran penyakit tersebut tidak meluas. Aplikasi yang dilakukan pada tanaman terinfeksi pada stadium 2 atau di bawah, dilakukan dengan cara melakukan infus sel mikroba probiotik melalui akar tanaman yang masih produktif pada ke enam sisi akar sekeliling pangkal batang tanaman kelapa sawit. Untuk teknis aplikasi, lihat petunjuk foto berikut ini.

ganoderma 2Dosis aplikasi sel mikroba probioitik yang diaplikasi yaitu sebanyak 20 ml per kantong atau 120 ml per POHON yang dipasangkan pada akar tanaman yang dituju. Setelah infus diselesaikan, dilanjutkan penutupan lubang kantongan infus dengan tanah sekitarnya, berikutnya dilakukan penyemprotan sel mikroba probiotik pada piringan tanaman yang diaplikasi. Adapun biaya aplikasi untuk infus sel mikroba probiotik sekitar Rp 2.400/POHON per rotasi, ditambah biaya penyebaran sel mikroba probiotik di piringan dengan dosis 10 ml per POHON sekitar Rp 400/piringan per rotasi, jadi biaya keseluruhan (di luar tenaga kerja) Rp 2.800/pohon per rotasi. Untuk biaya setahun sekitar Rp 2.800 x 4 rotasi per tahun, jadi besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pengendalian di luar biaya tenaga kerja sekitar Rp 11.200/pohon per tahun.

b. Penekanan
Kegiatan penekanan dilakukan untuk mencegah menyebarnya infeksi jamur Ganoderma sp dari tanaman terinfeksi 1 pohon atau lebih ke tanaman kelapa sawit lainnya di dalam salah satu areal atau blok. Teknis penekanan yang dilakukan juga dilakukan dengan infus sel mikroba probiotik pada akar tanaman dalam hamparan isolasi yang terdiri dari 18 pohon tanaman kelapa sawit, penyebaran sel mikroba probiotik pada hamparan luasan isolasi seluas sekitar 0,13 hektare dengan biaya infus untuk tanaman kelapa sawit sebanyak 18 pohon diperlukan biaya sekitar Rp 43.200/rotasi, sementara biaya penyebaran sel mikroba probiotik pada hamparan isolasi sekitar Rp 13.000/rotasi. Dalam setahun diperlukan aplikasi sebanyak 4 rotasi, jika perlakuan hanya pada satu titik tanaman yang terinfeksi, maka diperlukan biaya aplikasi per tahun sekitar Rp 224.800 (hanya biaya bahan).

Belakangan ini beberapa perusahan perkebunan sudah memulai penanaman kelapa sawit dengan klon toleran terhadap infeksi jamur Ganoderma sp, bibit tersebut terbilang lebih mahal. Penamanan dengan sumber bibit yang lebih toleran pada areal bekas adanya infeksi jamur Ganoderma sp akan lebih terjamin jika proteksi dini dilakukan dan keseimbangan mata rantai ekosistem terpelihara.

 

Sumber : http://agroplus.co.id/penyakit-busuk-pangkal-batang-dan-busuk-pangkal-atas-pada-tanaman-kelapa-sawit/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *