Sebagian Besar Gambut Dunia Dimanfaatkan Untuk Pertanian

kebijakan pemerintah untuk tetap memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian,  bukan kebijakan yang salah

Menurut data Wet International, luas lahan gambut dunia adalah 373.7 juta hektar. Distribusinya persen di 9.6 persen Kawasan Asia, 44 persen Kawasan Eropa dan Russia, 40 persen di Kawasan Amerika dan sisanya di kawasan lain. Negara-negara yang memiliki lahan gambut luas adalah Rusia 137 juta hektar,  113 juta hektar Kanada, Amerika Serikat 22.4 juta hektar dan Indonesia sekitar 18 juta hektar.

Dari luas gambut dunia tersebut ternyata hanya sekitar 20 persen berupa hutan gambut. Sebagian besar yakni 80 persen dimanfaatkan untuk kegitan pertanian dan kegiatan lainya (Wet International, 2008; Strack, 2008). Penyebaran pertanian gambut global sekitar 39 persen berada di kawasan Amerika, Asia 44 persen, Eropa 11 persen dan sisanya di kawasan lain. Negara terbesar yang memanfaatkan gambut untuk pertanian adalah Rusia 130 juta hektar, disusul Kanada 97 juta hektar dan Amerika Serikat 12 juta hektar.

Menurut data Balitbang Pertanian (2008) lahan gambut di Indonesia yang dikategorikan gambut dangkal (kedalaman kurang 3 meter) yang sesuai untuk pertanian diperkirakan sekitar 6 juta hektar. Pemanfaatan gambut untuk pertanian termasuk perkebunan sawit diperkirakan baru sekitar 4 juta hektar.

Dengan data pemanfaatan gambut dunia tersebut, tidak ada yang salah jika selama ini pemerintah memberikan izin pemanfaatan lahan gambut untuk kegiatan pertanian termasuk perkebunan kelapa sawit. Kedepan juga, pemerintah tidak perlu ragu-ragu untuk melanjutkan kebijakan pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian.

Bahwa baru saja kita menghadapi masalah kebakaran lahan gambut, meski harus disesalkan tidak perlu pemerintah bereaksi berlebihan melakukan penghentian pemanfaatan lahan gambut. Sebagaimana diketahui pemerintah sendiri, bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi tahun ini sebagian besar bukan di lahan gambut dan bukan pula pada gambut pertanian atau lahan gambut yang diatasnya sudah ada perkebunan sawit. Tidak semua lahan gambut di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalteng, Kaltim, Kalsel, dan Kalbar yang terbakar.

Perkebunan sawit gambut yang luasnya puluhan ribu hektar di pesisir Timur Sumatera Utara, tidak ada yang terbakar. Demikian juga perkebunan sawit gambut di Malaysia (daerah Serawak) yang luasnya sekitar 1.3 juta hektar juga tidak terbakar meskipun menghadapi musim El Nino yang sama dengan Indonesia. Jadi tidak ada hubungan antara karhutla dengan lahan gambut pertanian termasuk perkebunan kelapa sawit.

Tentu belajar dari pengalaman yang lalu, perlu diperbaiki tata kelola pemanfaatan lahan gambut baik untuk pertanian maupun untuk hutan gambut. Edukasi dan pengembangan kelembagaan pengelolaan gambut perlu dilakukan sebagai bagian solusi menyeluruh. Sejujurnya, kita belum pernah mengedukasi masyarakat petani lokal bagaimana cara mengelola gambut termasuk mencegah kebakaran. Kita hanya memaki, “mengkambing hitamkan” mereka ketika terjadi kebakaran gambut seperti tahun ini. Jangan-jangan saat ini kita berfikir untuk mengusir mereka dari pertanian lahan gambut atas nama kelestarian lingkungan dan bukan kelestarian kemanusiaan.

Dengan catatan segala kelemahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian yang telah berlangsung lama di Indonesia, masih jauh lebih baik daripada mereka yang illegal logging atau illegal maining. Juga lebih baik daripada LSM anti sawit yang jual diri dan menghambakan dirinya ke negara Barat untuk dapat uang.

Sumber : http://indonesiakita.or.id/sebagian-besar-gambut-dunia-dimanfaatkan-untuk-pertanian/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *